Kesedihan Ummat Islam Di Akhir Bulan Ramadhan 1444 H.

Kesedihan ummat islam
Kini ummat islam telah selesai melaksanakan ibadah puasa ramadhan 1444 H. Semuanya menampakkan perasaan bahagia, karena telah selesai menunaikan ibadah yang membutuhkan kesabaran yang tinggi, kalau saja puasa ramadhan ini tidak dihadapi dengan kesabaran, keimanan kuat dan kebersediaan melaksanakannya, tentu banyak ummat yang gagal dalam melaksanakannya.

Namun, disamping perasaan bahagia yang nampak dari raut wajah, perasaan gembira karena telah tunai puasanya, memaksakan diri menahan lapar dan dahaga, pasti ada perasaan sedih yang teramat kuat, kenapa demikian, karena disadari ataupun tidak, kita telah berpisah dengan bulan yang agung, bulan yang penuh berkah serta ampunan, bulan yang penuh pelajaran, mengajarkan kita untuk berdisiplin, baik disiplin waktu, makan, istirahat, dan tentunya disiplin taqwa kepada alloh SWT.

Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari Puasa Ramadhan


Dari kewajiban puasa ramadhan ini, banyak sekali hikmah yang sangat banyak untuk kita ambil dan di realisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, diantaranya :

1. Rasa lapar yang tiap hari kita rasakan, haus yang setiap saat merata bagi seluruh ummat islam, bukan tidak ada artinya bagi kita, tentu ada banyak sekali pelajaran dari itu semua, yakni, kita dituntut untuk selalu menjaga diri dari berbagai hal yang tidak disukai syari'at, terutama kita di tuntut untuk menjauhi perbuatan jahat, kita dituntut agar terhindar dari perbuatan dosa di bulan suci ramadhan ini.

2. Dengan adanya puasa ramadhan, tentunya kita harus menahan diri dari makan, minum dan jima', yang mana ketiga hal tersebut, sangatlah disukai kita sebagai manusia biasa, akan tetapi, oleh karena kita harus menjalankan puasa satu bulan lamanya, maka ketiga hal tersebut, mau tidak mau harus dijauhi, selama kita sedang melaksanakan ibadah puasa.

3. Dari segi sosial, maka kita akan merasakan bagaimana laparnya puasa, bagaimana hausnya puasa, dan tentunya bagaimana rs lapar dan haus, yang sudah terbiasa dirasakan oleh orang orang yang setiap saat di kerumuni rasa lapar dan haus, intinya, kita dituntut supaya bisa merasakan bagaimana payah dan susahnya hidup dalam kelaparn dan kehausn.

Shabat-sahabatku yang saya cintai.

Bagaimanapun kegembiraan yang dirasakan kita sebagai ummat islam, bagi yang didalam hatinya tertanam keimanan yang kuat, perasaan selalu ingin dekat dengan sang pencipta, maka rasa gembira itu tidak ada apa apanya dibanding dengan kesedihan yang tiada tara, bagaimana tidak, bulan yang penuh berkah, penuh rahmat dan ampunan ini, yaitu bulan suci agung, bulan ramadhan, yang nilai setiap amal dilipat gandakan oleh alloh, setiap perbuatan baik sangat besar pahalanya, orang tua kita di istirahatkan di barzakhnya, pintu surga di buka selebar lebarnya, pintu neraka di tutup serapat rapatnya, syetan dan iblis di belenggu, yang diluar bulan ramadhan, itu semu tidak terjadi, kini bulan suci ramadhan telah meninggalkan kita, maka hal ini, bagi ummat islam yang kuat imannya, yang tidak rela ketaqwaannya menurun, akan terasa amat berat kalau harus berpisah dengan bulan suci ramadhan.

Bagaimana Sikap Kita Menghadapi Bulan bulan  Setelah Bulan ramadhan


Setelah satu bulan kita di tempa, di tuntut agar rajin melaksanakan ibadah, dituntut menahan lapar dan dahaga, dituntut menahan diri agar terhindar dari perbuatan keji, dan mungkar, maka kita tanamkan benih benih iman, kita realisasikan pelajarn yang didapat dari bulan ramadhan ini, yaitu dengan terus membiasakan diri dalam kebaikan, lebih ditingkatkan jiwa sosial, raj8n bersedekah, semakin rajin membaca alquran, semakin rajin melaksanakan sholat berjamaah, melaksanakan sholat malam, jangan pernah dikurangi, apalagi ditinggalkan.

Sekian dulu artikel ini, semoga bermanfaat.

Posting Komentar

0 Komentar

Geliat Pesantren Terpencil di Indonesia 2026