Pondok Pesantren Kitab Kuning Pertama di Indonesia

Pesantren Pertama
Pondok pesantren yang secara historis diakui sebagai institusi pendidikan Islam tertua dengan sistem kurikulum kitab kuning yang masih eksis hingga 2025 adalah Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu di Kebumen dan Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan.
Berikut adalah artikel mendalam mengenai pesantren kitab kuning pertama di Indonesia:

1. Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu : Cikal Bakal Tertua (1475 M)


Pesantren Al-Kahfi Somalangu yang terletak di Desa Sumberadi, Kebumen, Jawa Tengah, memegang rekor sebagai salah satu pesantren tertua di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara.
  • Sejarah Berdiri : Didirikan pada tanggal 25 Sya’ban 879 H atau 4 Januari 1475 M oleh seorang ulama asal Yaman, Syekh Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani.
  • Akar Nama : Nama "Somalangu" berasal dari titah Sultan Raden Patah dari Kesultanan Demak, yaitu "Sumadu" yang kemudian diucapkan masyarakat sebagai Somalangu.
  • Tradisi Kitab Kuning : Sejak awal berdirinya, pesantren ini telah menjadi pusat transmisi Islam tradisional melalui pengajaran kitab-kitab klasik (kitab kuning) dalam bidang fiqh, tauhid, dan tasawuf yang dibawa langsung dari tradisi keilmuan Timur Tengah.

2. Pondok Pesantren Sidogiri : Simbol Kemandirian (1718 M)


Meskipun Al-Kahfi lebih tua secara angka tahun, Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan sering disebut sebagai prototipe pesantren salaf (tradisional) pertama yang memiliki manajemen kurikulum kitab kuning yang sangat terstruktur dan masih sangat berpengaruh hingga saat ini.

  • Pendiri: Didirikan oleh Sayyid Sulaiman pada awal abad ke-18 (sekitar tahun 1718 M).
  • Metode Pembelajaran: Sidogiri hingga 2025 tetap konsisten menggunakan metode tradisional seperti sorogan (santri membaca di depan guru), wetonan (guru membaca, santri menyimak), dan bandongan untuk mengkaji kitab kuning tanpa tergerus oleh sistem pendidikan formal modern secara berlebihan.
  • Kemandirian Ekonomi: Pesantren ini dikenal luas karena kemandirian ekonominya melalui jaringan BMT (Baitul Maal wat Tamwil) dan toko ritel yang hasilnya digunakan untuk membiayai operasional pendidikan santri.
3. Esensi Kitab Kuning dalam Sejarah Pesantren

Kitab kuning atau "kitab gundul" adalah elemen inti yang membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya. Istilah ini merujuk pada kitab klasik berbahasa Arab tanpa harakat yang ditulis oleh ulama abad pertengahan.

  • Materi Utama: Meliputi ilmu alat (Nahwu dan Shorof), Fiqh (hukum Islam), Akidah/Tauhid, hingga Tasawuf.
  • Rujukan Utama: Beberapa kitab yang sudah diajarkan selama ratusan tahun antara lain Matan Al-Jurumiyah, Safinatun Najah, hingga Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
4. Peran Tokoh Awal (Wali Songo)

Jauh sebelum institusi pesantren berbentuk bangunan permanen seperti sekarang, peletak dasar pendidikan Islam di Nusantara adalah para Wali Songo. Syekh Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419 M) dianggap sebagai tokoh yang pertama kali merintis model padepokan atau asrama pendidikan di Gresik, Jawa Timur, yang menjadi embrio lahirnya pesantren di kemudian hari.

Kesimpulan


Perkembangan pesantren kitab kuning di Indonesia merupakan jembatan intelektual yang menghubungkan umat Islam di Nusantara dengan sumber keilmuan Islam global. Melalui Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu dan Pondok Pesantren Sidogiri, tradisi intelektual ini tetap terjaga hingga memasuki tahun 2025.

Posting Komentar

0 Komentar

Geliat Pesantren Terpencil di Indonesia 2026