Pengertian Hati, Ruh, Nafsu Dan Akal Pandangan Al-Ghozaly



Pengertian Hati, Ruh, Nafsu Dan Akal Pandangan Al-Ghizaly


Apa sebetulnya arti dan maksud nama-nama dan kata itu? 







Hendaklah anda ketahui, bahwa nama-nama dan kata kata itu akan dipergunakan dalam rincian rincian ini





Dikalangan Ulama-ulama besar sedikit yang mendalami dam mengetahui secara tepat istilah istilah ini, perbedaan pengertiannya, batasan batasan dan penyebutan penyebutannya, Seringkali banyak kesalahan diperbuat oleh orang orang, ini disebabkan oleh kebodohan dan ketidak-tahuan tentang pengertian ke empat nama tersebut, juga ketidak-tahuannya tentang kesekutuan antara penyebutan penyebutan yang berbeda-berbeda. 





Kami akan menjelaskan ha hal yang berhubungan dengan tujuan pembahasan kami saja.




Pengertian Hati, Ruh, Nafsu Dan Akal Pandangan Al-Ghizaly







1. Hati Atau Qolbu





Kata-kata hati atau qalbu ini mempunyai dua macam pengertian : 





A. Hati atau qalbu, ialah segumpal daging yang berbentuk panjang-bulat yang terletak di dada sebelah kiri, yaitu : segumpal daging yang mempunyai tugas khusus yang didalamnya terdapat rongga-rongga tempat darah hitam yang menjadi sumber dan tempat penyimpanan roh atau nyawa.





Sekarang kami tidak bermaksud menjelaskan bentuk dan perihal-keadaan hati itu, karena hal itu masuk dibidang kedokteran dan tidak ada hubungannya dengan tujuan-tujuan keagamaan. Hati semacam ini juga ada pada binatang, bahkan ada pada orang mati. 





Kalau dalam artikel ini, kami menyebutkan kata-kata hati, itu bukan dimaksudkm sepotong daging yang tidak berharga itu, hal-mana termasuk dalam alam malaikat dan alam nyata karena hal ini dapat ditngkap oleh indera penglihatan binatang, lebih lebih tentang hati manusia. 





B. Hati adalah, sesuatu yang lembut yang bersifat ketuhanan dan rohaniah yang ada hubungan dengan hati jasmani ini. Sesuatu yang lembut inl adalah hakekat manusia yang dapat menangkap, berilmu dun mengenal Tuhan, yaitu, manusia yang menjadi sasaran khithab atau perintah an larangan Tuhan. yang disiksa, dicela dan dituntut atau dimintai pertanggungjawaban tentang amal perbuatannya. 





Hati dalam pengertian yang kedua ini, ada hubungannya dengan hati jasmani. Banyak manusia menjadi bingung untuk mengetahui segi hubungan antara hati rohani dan hati jasmani, karena hubungan kedua hati itu amat erat sekali, serupa dengan hubungan antara hal-hal yang datang-lenyap (pada manusia) dengan jisim, sifat-sifat dengan hal-hal yang disifati, atau serupa dengan hubungan antara alat-alat yang dipergunakan sebagai perkakas dengan perkakasnya itu sendiri, ataupun serupa dengan hubungan antara sesuatu yang menempat dengan tempatnya. 





Untuk menjelaskan hal tersebut, kami sangat berhati-hati disebabkan karena dua hal :





Pertama, bahwa hati dalam pengertian yang kedua ini sangat erat hubungannya dengan ilmu mukasyafah. Dan bukanlah tujuan kami dalam artikel ini, melainkan ilmu mu’amalah.





Yang kedua, bahwa untuk mendalami hakikat hati dalam pengertian yang kedua ini mendorong untuk terbukanya rahasia roh. Sedangkan hal ini termasuk sesuatu yang belum pemah dibicarakan oleh Rasulullah saw. oleh karena itu, yang bukan rasul sudah tentu tidak berhak membicarakannya. 





Maka, apabila kami mengatakan ”Hati” dalam artikel ini, yang kami maksudkan ialah ”hati dalam pengertian yang kedua”, yaitu hati yang bersifat lembut, ketuhanan dan rohaniah. 





Kami bermaksud membicarakan sifat-sifatnya dan hal ihwalnya, bukan membicarakan hakikatnya yang ada pada dzatnya. sedangkan ilmu mu’amalah membutuhkan mengetahui sifat sifatnya dan hal-ihwalnya, dan tidak membutuhkan membicarakan hakikatnya. 





2. Roh





Demikian juga kata-kata ”roh” ini dipergunakan untuk sesuatu yang ada hubungannya dengan jenis yang kami tujukan kepada dua pengertian : 





A. Jisim lembut yang bersumber dari rongga hati jasmani, dengan perantaraan otot-otot dan urat urat yang beraneka ragam ke seluruh bahagian-bahagian tubuh. Perjalanannya di dalam tubuh, pancaran sinar kehidupan, perasaan, penglihaam pendengaran dan penciuman itu serupa dengan pancaran sinar dari sebuah lampu yang tersebar ke seluruh sudut rumah, sehingga tidak ada satu bahagianpun dari rumah yang terkena sinar tidak menjadi terang. 





Hidup itu laksana sinar yang berada di dinding-dinding sedangkan roh itu laksana lampunya. Perjalanan roh dan geraknya di dalam bathin, itu seperti geraknya lampu di sudut-sudut rumah yang digerakkan oleh penggeraknya. 





Para dokter apabila menyebutkan kata-kata Roh berarti roh dalam pengertian yang demikian itu, yaitu: uap lembut yang terjadi karena proses pemasakan oleh panasnya hati. Hal ini bukanlah merupakan tujuan kami untuk menjelaskannya, karena ia menyangkut bidang kerja para dokter yang bertugas mengobati penyakit tubuh. Adapun tujuan para dokter Agama yang bertugas mengobati hati, sahingga dapat diantar ke Hadlirat Alloh alam semesta tidak ada hubungan samasekali dengan penjelasan ”ROH” dalam pengertian yang pertama mi, . 





B. Sesuatu yang lembut pada manusia yang dapat mengetahui dan menangkap segala sesuatu dan segala pengertian. Hal ini telah kami jelaskan pada salah satu dari beberapa pengertian kata "HATI". Dan itulah yang dikehéndaki oleh Allah Ta’ala di dalam Firman-Nya, Surat Al-Isro Ayat 85.





”Katakanlah : ”Roh itu termasuk urusan Tuhanku".





Roh dalam pengertian yang kedua inilah termasuk suatu perkara yang mengagumkan dan bersifat ketuhanan, halmana kebanyakan akal dan kefahaman manusia lemah untuk menemukan hakikatnya yang sebenarnya. 





3. Nafsu





Kata ”Nafsu” ini juga mempunyai dua pengertian yang berhubungan dengan tujuan kami, yaitu, 





A. Yang dikehendaki ialah nafsu yang menjadi tempat berkumpulnya kekuatan marah dan syahwat yang ada pada manusia sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. 





Nafsu dalam pengertian inilah yang lazimnya dipergunakan oleh ahli Tasawwuf, karena mereka menghendaki bahwa nafsu adalah pusat berkumpulnya sifat sifat tercela yang ada pada manusia. Oleh karena itu, mereka menyatakan, bahwa nafsu itu harus diperangi dan dilumpuhkan. Inilah yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah saw :





”Musuhmu yang paling berat adalah nafsumu yang ada diantara dua lambungmu". HR. BAEHAQY DARI IBNU ABBAS.





B. Nafsu yang telah kami sebutkan, yaitu, sesuatu yang lembut, Itulah manusia dengan hakikat kemanusiaannya. Dan itulah nafsu dan zat manusia. Tetapi nafsu dalam pengertian yang kedua ini mempunyai berbagai sifat yang berbeda beda sesuai dengan perbedaan keadaannya. 





Apabila nafsu ini merasa tenang pada suatu perkara dan terlepas dari kegoncangan dan keragu raguan disebabkan oleh setangan berbagai syahwat, maka nafsu yang demikian ini disebut ”Nafsu Muthmainnah” sebagaimana yang dimisalknn Allah dalam Firmannya.





"Hai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridoinya".





Sedangkan nafsu dalam pengertian yang pertama tidak terbayang kembalinya kepada Allah Ta’ala, bahkan ia terjauh dari padanya dan termasuk dalam golongan syetan. 





Apabila ketenangan nafsu itu tidak sempurna, tetapi ia hanya menolak dan menentang nafsu syahwat, maka nafsu yang demikian, disebut ”Nafsu Lawwamah”, karena ia selalu mancela orang yang mempunyainya ketika orang ini teledor atau tidak melakukan ibadah.





4. Akal





Akal ini juga mempunyai berbagai macam pengertian yang berbeda beda. Dari sejumlah pengertian yang banyak itu ada dua pengertian yang berhubungan dengan tujuan penjelasan kami, yaitu : 





A. Bahwa akal ialah berarti mengetahui hakikat segala sesuatu. Oleh karena itu, maka dalam hal ini akal merupakan suatu ibarat dari sifat ilmu yang terletak di dalam hati. 





B. Bahwa akal ialah alat untuk menangkap dan mendapatkan segala ilmu. Oleh karena itu dalam hal ini, akal berarti ”hati”, maksudnya "sesuatu yang lembut” (pengertian yang kedua). 





Kita mengetahui, bahwa setiap orang alim itu di dalam dirinya ada sesuatu yang wujud yang merupakan suatu asal yang berdiri sendiri dan ilmu itu mempakan suatu sifat keadaan yang ada padanya, sedangkan sifat itu sendiri tidak dapat disifati. 





Kata ”Akal” itu kadang-kadang yang dikehendaki ialah sifat orang alim dan kadang-kadang pula berarti tempat penemuan, maksudnya yang menemukan segala pengetahuan. Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah saw. : 





"Yang mula-mula sesuatu yang diciptakan Oleh Allah adalah llmu".



Cukup sekian, semoga bermanfaat.

Posting Komentar

0 Komentar

Geliat Pesantren Terpencil di Indonesia 2026