Menyemai Cahaya di Pelosok : Geliat Pesantren Terpencil di Indonesia
2026
Di tengah kemajuan teknologi dan modernisasi yang melanda pusat-pusat kota,
pondok pesantren di wilayah terpencil Indonesia tetap tegak berdiri sebagai
benteng moral dan pendidikan. Memasuki tahun 2026, lembaga-lembaga ini tidak
hanya menjadi pusat studi agama, tetapi juga motor penggerak kemandirian
masyarakat di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Eksistensi di Tengah Keterbatasan
Banyak pesantren di pelosok nusantara beroperasi dengan fasilitas yang jauh
dari kata mewah. Sebagai contoh, Pesantren Darussalam Parmeraan di Sumatera Utara terletak jauh di pedalaman hutan. Dengan lebih dari
1.200 santri, pesantren ini menjadi oase pendidikan bagi anak-anak dari
berbagai provinsi yang ingin menghafal Al-Qur'an dan memperdalam kitab
kuning di lingkungan yang asri dan tenang.
Begitu pula di wilayah kepulauan, Pesantren Enggano di Bengkulu terus mendapatkan dukungan pemerintah untuk pembangunan
fasilitas guna memastikan akses pendidikan agama tetap tersedia bagi warga
di pulau terluar tersebut.
Kurikulum Kehidupan: Lebih dari Sekadar Mengaji
Kehidupan di pesantren terpencil sering kali mengintegrasikan pendidikan
agama dengan kecakapan hidup (life skills). Di beberapa pesantren di Jawa Barat, santri tidak hanya belajar tata
bahasa Arab dan tafsir, tetapi juga terampil dalam:
- Pertanian & Perkebunan: Mengelola belasan hektar lahan untuk bercocok tanam sayuran dan kelapa sebagai bagian dari praktik kemandirian.
- Wirausaha Religi: Seperti yang dilakukan di Pesantren Mu'inul Islam di Kalimantan Barat, yang mengembangkan budidaya anggur, madu kelulut, hingga ikan arwana sebagai destinasi wisata religi sekaligus sumber ekonomi pondok.
Tantangan dan Harapan di Tahun 2026
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama terus berupaya memperkuat
peran pesantren di wilayah perbatasan sebagai penjaga kedaulatan NKRI
melalui pembentukan karakter yang moderat. Beberapa proyek renovasi besar,
seperti pembangunan ulang Ponpes Al-Khoziny, ditargetkan rampung pada Juni-Juli 2026 untuk meningkatkan kapasitas
tampung dan kenyamanan santri.
Namun, tantangan infrastruktur tetap menjadi isu utama. Akses jalan menuju
pesantren di pelosok masih memerlukan perhatian serius agar proses
distribusi logistik dan mobilitas pendidikan tidak terhambat.
Kesimpulan
Pesantren terpencil adalah bukti ketangguhan pendidikan Islam tradisional.
Dengan semangat kemandirian dan dukungan yang mulai mengalir ke pelosok,
lembaga-lembaga ini terus melahirkan generasi yang tidak hanya "alim" secara
ilmu, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan zaman di tahun 2026.

0 Komentar