ISTIGOTSAH KUBRO HISAMI DITENGAH PANDEMI COVID 19

Baik ikhwan semua, walaupun kegiatan Reuni HISAMI yang ke 23 (23 Maret 2021) telah usai, bahkan sudah berlalu sepekan kebelakang, namun akan tetap terngiang dalam benak dan ingatan kami, bagaimana tidak, Sillaturrahmi Hisami yang ke 23 ini terkesan berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, ada kebahagiaan berlipat dalam kegiatan ini, yang di pastikan tidak akan pernah hilang, selama hayat masih dikandung badan.

Kebahagiaan Apa yang Dirasakan

Apabila seseorang mempunyai harapan dan cita-cita, pasti akan terus berjalan melewati berbagai cobaan dan ujian, dan tatkala ujian dan cobaan itu bisa dilewati dan dilumpuhkan, dengan segenap tenaga dan pikiran, memerangi kejenuhan dan kebosanan akan hantaman yang terus bertubi-tubi, maka kemungkinan besar harapan dan cita-citanya akan mudah didapat, begitupun Reuni Hisami ke 23, tak sedikit pagar penghalang yang dihadapi, rasa khawatir, waswas, rasa sungkan, bosan dan jenuh terus mengiringi langkah perjuangan, karena memang, dampak dari kegalauan akan ganasnya isu Pandemi C19, sangat jelas terbaca dan terlihat, akan tetapi, modal dari kebersamaan, banyaknya motivator yang terus memacu semangat, komunkasi yang senantiasa terjalin antar alumni, akhirnya, buah dari semua itu, kesuksesan Reuni Hisami ke 23 bisa terlihat, dan menimbulkan kebahagiaan yang tiada taranya. Kesimpulannya, Kebahagiaan kami tidak bisa di gambarkan dengan tulisan dan tidak bisa direkayasa dengan lukisan.

Siapa Yang Menjadi Saksi Kesuksesan Reuni Hisami ke 23?

Pastinya kesuksesan Reuni Hisami ke 23 bukan seluruhnya ada ditangan para alumni, alumni hanya sekedar pelopor, tapi sejatinya kegiatan ini sukses oleh asbab didalamnya ada campur tangan semua pihak, semua komponen, dari mulai santri, seluruh kordinator alumni, alumni kehormatan, jamaah pengajian malam rabu, jamaah pengajian hari rabu, para simpatisan, para donatur, pemerintah dan yang lainnya,terutama semua guuru-guru kami yang semuanya itu bergerak bersama, demi suksesnya kegiatan tersebut, apalah artinya kami kerja, karena kerja kami akan terasa hampa, apabila tidak ada campur tangan berbagai pihak.

Oleh karena itu, kami atas nama Pengurus harian Hisami Pusat, dan seluruh Jajaran Panitia pelaksana kegiatan Reuni Hisami ke 23, menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kami tidak bisa berbuat apa-apa, teriring do`a : Jazaakumulloohu Ahsanal Jazaa Bikhoirikum, semoga Alloh memberikan balasan yang lebih baik atas kebaikan semuanya.

Yang telah bekerja keras, mengorbankan waktu, tenaga dan harta demi lancarnya kegiatan ini, dari interen panitia pelaksana, setiap seksi yang telah turun tangan menjalankan tugasnya, dari mulai ketua, sampai seksi-seksi, semoga pengorbanan antum semua dicatat Alloh yang maha kuasa, sebagai amal soleh da, Alloh mengganti pengorbanan semuanya dengan surga.

Di luar sana banyak muslimin muslimat, para simpatisan dan dermawan, yang telah mengorbankan segalanya, dari mulai pikiran, tenaga, harta, yang antum berikan, semoga menjadi ladang pahala, yang kelak di hari akhirat, antum akan merasakan manisnya.

Tidak lupa juga, kami haturkan kepada Para qori, yang telah melantunkan Ayat-ayat suci, yang dengan melalui lantunan al-quran itu, alloh memberikan kesejukan pada hati kami, juga kepada penceramah, semoga ilmunya berkah dan bermanfaat, menjadi sebab alloh memberiikan cahaya bagi kami semua didunia dan di akhirat.

Yang Paling utama kami haturkan beribu-ribu terima kasih kepada guru-guru kami, yang sejak dahulu tak henti-hentinya membimbing kami, mengajarkan kami akan pahit dan manisnya perjuangaan, semoga alloh memberikan kesehatan kepada semuanya dan kepada seluruh keluarga, alloh berikan kebahagianan di dua alam, dan alloh sediakan surga Firdaus untuk semuanya, Mohon maaf yang terlebih, karena kami sebagai anak-anak didik-Mu, belum bisa mmemberrikan yang terbaik.

Kita semua patut merasa bahagia, pantas merasa bangga, karena kita telah menjadi saksi akan kesuksesan Reuni Hisami ke 23, menjadi pelaku sejarah keberlangsungan gebyarnya pengajian dan istigotsah kubro, yang sepantasnya kegiatan seperti ini, terus berjalan sampai kapanpun, tidak berhenti begitu saja, sampai hari kiamat tiba.

Apakah ada kesedihan yang menyelimuti?

Namun demikian, walaupun bahagia menyelimuti kami, akan tetapi perasaan sedih pastinya ada dan tidak bisa dipungkiri, bukan karena kami ini kecil, seperti anak bayi yang baru belajar berdiri, bukan karena kami manusia biasa, yang terbiasa mengalami kesedihan, namun KAMI BELUM BISA MENJADI KEBANGGAAN BAGI GURU-GURU KAMI YANG TIADA HENTI MEMIKIRKAN KAMI, dalam do`a mereka meminta agar kami menjadi bermanfaat, dalam setiap kaki yang kami langkahkan, mereka memberikan arahan agar kami berhati-hati, setiap hari keringatnya terus bercucuran, pikirannya terus terkuras, yang semua itu tiada lain, hanyalah bagi kami.

 Cukup sekian dulu, insya alloh di sambung lagi,

jika ini bermanfaat, gerakanlah jari-jarimuu untuk sudi kiranya membagikan artikel ini kepada siapapun, melalui Media Sosilal dan yang lainnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Geliat Pesantren Terpencil di Indonesia 2026